Buat saya. Tengah malam sontak terbangun, merintih kedinginan, menggigil itu adalah hal yang luar biasa. Jauh diluar kebiasaan sakit pada umumnya. Toh biasanya sakit yang saya rasakan hanya sekedar pusing atau masuk angin. Dan pagi itu, untuk beranjak melepas selimut tebal pun saya tak juga berani. Dingin sekali…..
Tak mengapa jika setiap hari saya harus makan apel, minum folavit, juss alpokat, susu coklat, termasuk juss jambu, jeruk hangat, dan sesekali makan sayuran. Ya sayuran hijau. Namun, untuk menjauhkan secangkir kopi di pagi hari ternyata amat sangat menyiksa.
Pernah suatu ketika, saat berjalan melewati sebuah gerai ramai di Malioboro, Aroma starbuck tercium begitu harumnya. Aaahh… rasanya begitu nikmat “nyeessss….dan saya harus memasang kacamata kuda untuk tidak sekali-kali menyambangi gerai tersebut. Bahkan untuk merasakan satu jilatan es krim-pun tidak!.Cukup menelan ludah teramat dalam.
Tak mengapa jika malam kian larut, dan suami masih sibuk berkutat dengan tuts-tus keyboardnya. Toh sebelumnya, sudah biasanya beliau akan menemani saya hingga dipastikan mata saya terpejam, terlelap duluan. Kalau sudah begitu, lantas beliaupun beranjak ke kamar sebelah menyambangi laptop kesayangan.
Iya bagi saya itu hal biasa.
Namun, saat petang tiba sebelumnya… serasa seisi perut berkecambuk ingin keluar, Mual!. Harum aroma parfum ataupun sabun mandi yang harusnya menyejukkan, berasa seperti racun yang menusuk-nusuk. Dan itu berlangsung setiap petang menjelang!.
Masihkah menjadi hal biasa jika cukup mandi tanpa memakai sabun wangi?. (*meski pada akhirnya kejutan tak terkira, ada sabun khusus untuk saya).
Tidak mengapa jika sepiring sate hanya untuk suami saja. Cukup tongseng otak kambing, ikan goreng, dan makanan yang tidak dibakar boleh saya telan. Tapi makan menu-menu itu saja terkadang bosan. Bahkan untuk makanan bercampur santan, rasanya saya sudah tidak berani lagi. Mual!. Bagaimana jika saya ingin makan steak?.
Alhasil, sembari liat pameran islamic book fair 2011 di GOR UNY, saya teringat ada warung steak diseberang jalan sana. Ya.. aroma steak dengan bubuk lada hitam sungguh nikmat menggoyang lidah.WoW… begitu semangatnya saya.
Waktu sudah tengah hari, ahaa… jam makan siang tentunya. Tapi apa daya.. warung steaknya ternyata belum buka. OH mungkin karena hari ahad libur. Pikir saya!.
Beralihlah ke bakso kepala sapi yang berada tidak jauh, tentu hanya dijangkau dengan beberapa langkah kaki saja. Usai kenyang, kembalilah kami ke area pameran buku, dan hanya melihat-lihat kemudian memutuskan untuk pulang.
Tapi, apakah hal biasa saja, ketika kami keluar dari pintu gerbang pameran, dan melihat kenyataan bahwa warung steaknya buka..??. dan suami pun berusaha menenangkan saya dengan berkata , “Ya.. besok kita balik lagi kesana…”
Saya hanya akan sanggup katakan…
Sesekali manusia perlu dalam suatu masa berbeda. Katakanlah diluar zona nyaman dan diluar zona perkiraan. Semata agar manusia itu bisa mensyukuri sedikit kenikmatan yang dia miliki dan rasakan. Tidak melulu menuruti hawa nafsu.
Saya dapati kenikmatan hanya meneguk segelas susu coklat setiap pagi tanpa harus mensruput secangkir kopi, dan saya pun merasa kenyang hanya dengan semangkuk bakso kepala sapi meski sebelumnya ingin sekali makan steak lada hitam. Dan terlebih lagi saya tidak perlu membeli pernak-pernik untuk menghias diri termasuk parfum yang wangi.
Dan saya pun merasakan kenikmatan luar biasa ketika bisa mengetik artikel singkat ini, sembari mengupas kentang kesukaan suami dan menyiapkan sarapan pagi.
Terkadang, saya merasakan kenikmatan ketika terngiang sosok mungil memangil-manggil saya, “Bundaa…. Bundaa…. Bundaa….”
Di mana kalian bisa temukan kenikmatan kalian?
Bisa jadi dari hal segampang itu saja, kan?