Menjadi Tamu Istimewa Presiden, Begini-lah Ceritanya

Cerita bermula dari sini, asli tanpa rekayasa. seorang anak bangsa yang tinggal dipelosok perbukitan jauh dari kota pun akhirnya menginjakkan kaki sampai Istana Merdeka. (*halah*). Sudah jadi Rahasia Umum tentunya, kalo memang tidak bisa sembarangan orang bisa masuk sana. Jangan coba-coba deh bergaya santai, kaos oblong, terlebih sampai pake sandal jepitan pula. Nyaaaiiiyaaallllaaahhh, ketemu Rektor kampus aja harus pake sepatu getoo lhoh. (*lirik abii…kedip-kedip*)

Bukan untuk sombong, bukan pula berniat pamer. Saya terinspirasi menulis  kisah pribadi terkait dengan “kejadian unik” di Rapimnas III PD di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu (6/12/2009) sekitar pukul 10.30 WIB. Saat dimana SBY sedang berpidato. Baru 10 menit bicara, dia langsung terdiam sejenak. Perhatian beliau terusik oleh sikap anggotanya yang dinilai tidak sopan. Matanya mengarah pada seorang pria setengah baya yang duduk di baris kelima dari delapan baris tempat duduk.

Pria itu terlihat menyangga kepalanya dengan tangan. Sikap ini tampaknya mengganggu SBY.  “Anda sakit?” tanya SBY sembari tangannya menunjuk pada pria yang mulai ubanan itu.

Pria yang ditunjuk langsung tergagap. Dia kontan memperbaiki sikap duduknya, seperti rekan-rekannya yang lain. Seluruh mata peserta Rapimnas yang berjumlah 100-an dan semuanya mengenakan jaket biru PD, menatap ke arahnya. Suasana jadi hening plus sedikit tegang.

“Tolong yang kelihatan sakit, Anda ke belakang sana. Cari dokter,” perintah SBY yang juga Ketua Dewan Pembina PD ini. Pria yang ditegur tak bisa berkata ba-bi-bu. Dia didekati seorang Satgas PD. Satgas itu lalu membawa pria tersebut keluar ruangan.  Belum diketahui unsur pimpinan dari mana peserta Rapimnas itu. Juga belum diketahui apakah benar dia sakit. Setelah orang itu pergi, SBY melanjutkan pidato sambutannya lagi. (voa-islam.org)

Nah lhoh… Saya rasa, pembaca pun bertanya-tanya bagaimana kelanjutan kisahnya. Owh..Takut juga kalo dijadiin tersangka, diburu satgas anti huruhara bagaimana?!. *soalnya 13 hari lagi saya nikah nih* :P

BUsyeeettt daah memangnya saya ini siapa tho? lhoh kok malah amnesia (!_!) (*abis jatuh sih kemaren sabtu, ditubruk pengendara motor diperempatan condongcatur. Asli tanpa rekayasa*).

Well, saya tidak akan memposisikan diri masuk dalam wilayah ranah hukum terlebih bicara soal idealisme dan kroni-kroninya :D . *tsssaaahhh..!!*.

Yang saya inget pesan dari kajian ahad pagi beberapa waktu yang lalu adalah, adab menasehati saudara seiman adalah dengan tidak membuat orang yang hendak dinasehati tersebut merasa malu/pun dipermalukan di depan umum. Bijaknya adalah dengan berbicara dengan bahasa yang baik atau dengan tidak membuka aib orang tersebut agar diketahui oleh orang banyak.

Eh, balik dulu ke topik awal. Saya kan mau cerita bagaimana rasanya jadi tamu presiden. :P . hehe,,,eniwee… seinget saya, jam 3 pagi itu saya sudah harus bangun, mandi, dan bersegera turun ke lobi hotel. Dan dresscode alias baju yang dikenakan pun semua sudah ditentukan.

Setelan jas, sepatu, dan jangan sampai ketinggalan tanda pengenal yang harus dipasang di bagian dada kanan atas jas. (*meski nangis2, jangan harap deh bisa masuk istana kalo tanpa tanda pengenal tersebut*)

Oh daaaan.. jangan kira jas-nya itu saya bawa dari Jogja. Setelan jas sudah disiapkan sesuai ukuran badan masing-masing. Tentu harga baju tersebut terbilang EXCELENT. Kalau dibeliin kaos oblong dagadu jogja yang harganya 20rebuan itu bisa dapet 50-an buah kaos deh..

Puagi-pagi itu saya dan kawan-kawanpun masih saja celingukan di pelataran depan istana. Bukan karena bingung mau masuk lewat pintu mana, cuman ya emang belum dapet ijin masuk, masih harus diperiksa cowok-cowok bertubuh kekar.

“Tut..Tut,,,Tut…” Suara sirine nyaring menjerit-jerit. Kata pemandu saya sih itu pertanda ada barang berbahaya atau barang terlarang yang harus segera dimusnahkan. (*sebegitu blo-onnya kah saya?. upss….kami orang baik-baik, jauh2 dari kampung ke kota euy).

Seorang bapak2 yang berasal asli tulen dibawah kaki gunung Jayawijaya itupun celingukan, berdiri antri depan saya, sedang kedua bola mata cowok yang berbadan otot rotan, bertulang tiang itu setengah membulat (*baca : melotot)

“Pak, mohon itu dilepas!.”

OH MY GOD, sabuk celana disuruh lepasin juga itu. Tak ayal deh, buru-buru saya ikutan lepasin pin kerudung, peniti, plus uang receh disaku (*daripada pas jatah saya diperiksa, dipelototin).

Pas masuk ke lorong pintu, satu persatu masuk dikawal orang-orang berbadan tegap dengan pakaian batik. Intel, Lenovo, ato apalah, kagak ngerti juga. (*yang jelas bukan lappy batiknya abi..!*). Nah lhoh, Pas mau duduk di kursi dalam istana, ternyata ndak bisa sembarangan pilih-pilih kursi tempat duduk.

Saking senengnya saya yang pengen liat Presiden itu lebih dekat, duduklah saya di kursi terdepan. (*lebay*). Tak tahunya, didatengin itu sama lelaki bertubuh tegap.

“Maaf mbak, silahkan mengikuti barisan ini.” Sembari nunjukkin kearah temen-temen.

(*wealah….tuwasno wis mantep nang ngarep.*).

O iya ada yang ketinggalan, barang-barang macem tas, hape, atau kamera, amat sangat dilarang dibawa masuk ke dalam istana. Okey!.Pupuslah harapan berfoto ria di dalam ruangan istana merdeka.

Hiii…Tapi namanya juga orang Indonesia yang cerdik nan pintar, satu diantara sekian banyak peserta ternyata ada teman saya yang diem-diem bawa kamera hp. (*nggak habis pikir deh dimana dia bisa nyembunyikan!*). Saya pun ikutan nimbrung jepret2 usai acara penutupan.  (*tapi maaf ya wajah saya terlalu mahal untuk bisa ditampilkan di-blog ).

Pas sesi model sarasehan, ada waktu buat share, idealnya rakyat boleh bebas mengadu, berkeluh kesah layaknya seorang anak yang curhat sama orangtuanya. Hehe…tapi kenyataan membuktikan bahwa : malam sebelum paginya ada pertemuan itu, saya dan kawan-kawan diberikan arahan oleh pemandu tentang apa-apa yang boleh ditanyakan pada pak presiden, dan apa-apa yang tidak boleh ditanyakan/pun materi yang disampaikan.

Weekk!!!…..

Soooo??…. yo ngono kuwi. Mpun ndalu, tulisan sampun ditunggu-tunggu abi jhee..mpun mendekati jam kalehwelas ndalu euy.

Mari kita belajar dari detik ini bagaimana adab saling menasehati sesama muslim. Dan saya harap berkenan mampir kesini (*moga bisa jadi tambahan asupan gizi hati kita*)

Incoming search terms:

Leave a Reply

© Copyright zizely 2011. All Rights Reserved. Theme designed by Skechie.
More in Notes (24 of 59 articles)