Bicara

Alangkah menyenangkan bukan, ketika kita terlanjur melakukan kesalahan, tapi kenyataannya kita disodori sebuah senyuman. Jujur saja,  “umumnya” orang akan merespon kesalahan kita dengan ekspresi kemarahan, kekecewaan, sampai-sampai sindiran dan makian terdengar panas di telinga.

Alangkah menawannya ketika seorang istri yang melepas kepergian suami untuk mengais rejeki di pagi hari, kemudian ia berpesan pada sang suami, ”Ingat, jauhkan kami dari makanan yang haram, lebih baik makan apa adanya, daripada makanan lezat membawa laknat”.

Alangkah indahnya ketika seorang anak terbiasa pamit sebelum berpergian, mencium tangan ibu-nya, kemudian berkata, “aku sayang ibu, semoga ALLOH menjagamu, ibu”.

Sikap sederhana nampak menyenangkan bukan?!. Dan bukankah kita pun selalu berharap ungkapan-ungkapan yang nampaknya amatlah sederhana, namun kenyataannya terhadap orang2 sekitar yang dekat dengan kita justru kadang malah mengabaikan. Kenapa kita jarang mendengar kata-kata lembut penuh kesopanan dan santun?.

Didalam keluarga, sering terjadi keributan dari hal-hal sepele. Ternyata ujung-ujungnya hanya kesalahpahaman menafsirkan kata. Padahal kalo maksud keinginan itu disampaikan dengan cara perkataan yang lebih santai, kemungkinan respon yang diberikan pun tidak se-heboh perang dunia kan?!.

Sekedar membalas sms pun terkadang hanya menjawab, “iya. titik”. Padahal kita bisa sedikit menambahkan kata, “iya, tunggu sebentar ya…”. hanya serangkaian kata, tapi kerasa makna-nya.

Apakah hanya dihadapan oranglain, kita bersikap manis? Seolah-olah merekayasa suasana?.karena pada kenyataannya, berucap perkataan yang baik ternyata butuh pembiasaan. Dan tidak bisa dalam sekejap direkayasa.

Coba liat, dan akui dengan jujur, seperti apakah suasana dan sikap kita ketika sedang kalut, dan pada saat yang sama kita juga berinteraksi dengan orang terdekat.

Orang terdekat  yang tak tahu apa-apa tiba-tiba jadi sasaran kemarahan, sikap ketus tiba-tiba, atau malah membentak tanpa ada kejelasan permasalahannya apa.

Berkata yang baik, tidak melulu dengan ungkapan pujian, rayuan, atau puisi indah penuh keromantisan. Tapi bagaimana kita mengungkapkan keinginan, harapan, atau menjawab dengan menggunakan kata-kata yang sekiranya nyaman didengar, tidak menyinggung perasaan.

Cobalah, sekedar mengucapkan terimakasih kepada pak tukang parkir saja kita kadang terlupakan.

Cobalah, pergunakan kalimat yang lembut dan senyuman yang manis kepada keluarga, orang-orang terdekat kita (terutama yang semahrom dengan  kita).

Mungkin hal lumrah ketika menjadi pengantin baru, semua nampak terasa indah, penuh sopan-santun, tapi apakah itu hanya berlaku di awal-awal pernikahan saja?.

Perlu pertautan hati untuk sekedar mengungkapkan ekspresi. Katakan dengan sepenuh hati ungkapan terimakasih itu. Kalaupun menasehati, ternyata kata-kata yang terlontar itu akan lebih mengena dihati, dibandingkan dengan perkataan indah namun tidak dari lubuk hati.

“Nak, ibu belum bisa membelikan. Maaf ya nanti kalo uang tabungannya sudah cukup, kita beli ya..”

Abii… Mi sebetulnya ingin mesin cuci, tapi nanti-nanti aja ndak apa-apa kok. Lagian Siti Khadijah dulu nyucinya nggak pake mesincuci ya bi?. Padahal beliau kan kaya-raya ya, bii ?!….:P ” (padahal dalam hati berharap ngarepbanget.com).

Kemudian sang suami menjawab, “iya, nanti kalo uangnya cukup, sisa beli server nanti buat mesin cuci ya mii….” (padahal maksudnya itu beli server dulu, baru mesin cuci).

Mari kita sama-sama belajar, bagaimana Nabi kita berbicara kepada istrinya, Beliau-lah sebaik-baik suri teladan.

Sekeras-kerasnya watak manusia, ada sisi kelembutan dihatinya, jikalau kita pintar menggunakan perkataan dan sikap yang baik, pasti dan pasti akan luluh juga. (tentunya butuh proses).

Bukan pada keindahan bahasanya, tapi bagaimana mengungkapkan dengan sikap terbaik yang kita bisa.

Jagalah MULUTmu…
Seperti menjaga KEMALUANmu !
Karena keBANYAKan penduduk NERAKA…
Bukan hanya orang yang tidak bisa menjaga KEMALUANnya…
Tetapi juga orang yang tidak bisa menjaga MULUTnya….

***
“Perkara yang paling BANYAK mengANTARkan orang masuk ke NERAKA
adalah MULUT dan KEMALUAN.” (HR. Tirmidzi)
***
“Barang siapa berIMAN kepada ALLAH dan HARI AKHIR…
Maka berKATAlah yang BAIK atau DIAM.” (HR. Bukhori-Muslim)

Incoming search terms:

3 Comments

  1. mandor tempe on January 21st, 2011

    hal-hal kecil seperti ini
    Hal-hal mengenai kelembutan hati terkadang terlewatkan oleh saya sehingga apa yang saya hadapi terasa mental terus.

  2. adi on January 22nd, 2011

    terima kasih ya mi buat masukannya :)

  3. ismi on January 22nd, 2011

    Pak Mandor Tempe, # terimakasih ya… HUmmm.. Ntah ini pak mandor, Mi lagi pengen ngungkapiin topik ini.

    Pak Adi, #…(~_*)… matursuwun njeh bi udah ngajarin banyak hal ama mi, emmm yang sabar njeh ama mi.. :)



Leave a Reply

© Copyright zizely 2011. All Rights Reserved. Theme designed by Skechie.
More in Personal (34 of 73 articles)