Pengalaman Bersihin Karang Gigi 2011

Mengawali edisi 2011, di Januari.

Sudah kesekian kalinya bersihin karang gigi. Tapi kok rada gimana gitu ya tadi. Seperti edisi-edisi sebelumnya. Masuk ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut, kemudian registrasi, dan menunggu dipanggil. Kalo sudah punya kartu ya tinggal registrasi antrian aja.

Nah, waktu mendekati sholat jumat, saya kan udah bincang-bincang tuh ya sama mbak yang jaga registrasi.

“Mbak, sekarang berapa ya kalo bersihin karang gigi?”

“Kalo KoAs 50, kalo dokter 70, mbak.”

Lega deh. Paling nggak tarifnya ngga terlalu jauh amat dari tahun sebelumnya. Kemudian, saya pun di panggil petugas. Ketemu deh sama bu dokter cantik.

“Mett siang Bu dokter, saya mau bersihin karang gigi”. Sembari tersenyum manis nih saya….

Singkat cerita,

Duduklah saya di kursi panas (tegang liat peralatan). Kemudian mulai-lah sang dokter mencongkel-congkel sela gigi. Sesekali kerasa ngilu, kadang cekrik-cekrik, dan kadang rasa-rasanya mau muntah.

Tidak sampai 15 menit….!!

(psst : padahal, tahun kemaren itu saya bersihin karanggigi lama banget, bisa sampai setengah jam).

Emm…sebetulnya bukan itu sih pengalaman yang pengen saya ungkapkan. Cuma merasa heran aja, dan rasanya perlu menjadi catatan.

Pertama, ketika tahun lalu saya bersihin karanggiginya sama koas, alias mahasiswa praktek. Oke-lah tak apa, tarif memang lebih murah, dan mungkin awalnya meragukan juga.

“Dooh, jangan-jangan….jangan… (otaknya kepikiran kalo saya bakalan jadi kelinci percobaan!)”

Tapi bismillah, meski lumayan lama itu bersihin karang gigi, ternyata buat saya hal itu lebih memuaskan hasilnya ketimbang pembersihan karang gigi yang hari ini saya jalani. Jujur saja, meskipun saya dibersihin sama dokter yang sudah lebih berpengalaman. Namun ternyata, gigi yang dibersihkan tidak se-teliti kemaren pas sama Koas.

Kedua, ironis sekali.. bu dokter cantik tadi bilang sama saya kalo :

“Mbak, karang giginya banyak sekali…”.

Well, oke..kalo sekiranya karang gigi saya banyak kenapa pembersihannya cuma sebentar?. Dan hanya bagian-bagian tertentu saja?. Padahal tahun lalu  saya bersihin karang gigi bisa sampai setengah jam lebih, dengan satu per satu sela-sela gigi dibersihkan. Dan saya rasa kondisi gigi saya tahun ini lebih terjaga lhoh dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ketiga, keheranan saya semakin bertambah ketika usai pembersihan gigi. Sang dokter cantik menuliskan berapa tarif yang akan dibayarkan. Kemudian saya menuju kassa untuk membayar sejumlah yang tertera.

Namun apa?.

Seorang bapak penjaga kassa meminta saya membayar 125.000. padahal jelas-jelas di dalam nota kwitansi pembayaran itu 71.000.

Saya terheran, lhoh kok bisa?. (padahal sudah jelas pula kan kalo sebelum memasuki ruangan panas itu saya sempat tanya sama mbak yang jaga registrasi kalo biayanya sekitar 70.ooo.)..

Tapi kemudian saya menatap wajah sang bapak penjaga kassa. (maaf bukan bermaksud suudzon). Tapi saya merasa, dari wajah sang bapak ini memang sepertinya tipe-tipe yang “seperti” itu sudah menjadi hal biasa. Saya hanya menggunakan perasaan batin. Tapi ya ALLOHhu”alam…

Kemudian, saya pun tersenyum dan membuka dompet memberikan sejumlah uang yang beliau minta. Dan tak lupa sebelum saya melangkahkan kaki untuk ke pintu keluar, saya hanya bisa mendoakan dalam hati,

“Ya ALLOH, lapangkan hatiku, dan karuniakanlah hati yang terbuka kepada bapak itu untuk tidak lagi berbuat seperti itu.”

Untuk edisi selanjutnya, saya tidak akan lagi meremehkan koas meskipun mereka baru mahasiswa praktek, namun insyaALLOH dengan keyakinan dan kepercayaan mereka pastinya juga berusaha memberikan yang terbaik untuk pasien-pasiennya.

Bukan harga yang lebih murah yang saya cari, tapi ketika sebuah pelayanan yang terbaik kepada pasien itu adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Ibaratnya pasien adalah raja. Meski hanya dengan bersikap ramah, tersenyum,dan yang utama adalah kejujuran. Mungkin itu sudah diajarkan dalam kode etik kedokteran.

Incoming search terms:

2 Comments

  1. Asop on February 5th, 2011

    Lhooo jadinya ga jadi tanya ke si Bapak itu? :(
    Kalo saya sih bakal saya tanya langsung, kenapa kok biayanya lain dari yang tertera di tulisan… ketimbang disinpen dalem hati…. :|

  2. Mora H. Ritonga on July 27th, 2011

    Nice share..
    “Ya ALLOH, lapangkan hatiku, dan karuniakanlah hati yang terbuka kepada bapak itu untuk tidak lagi berbuat seperti itu.”
    Amin ya Robbal Alamin



Leave a Reply

© Copyright zizely 2011. All Rights Reserved. Theme designed by Skechie.
More in Notes (32 of 59 articles)