Memelihara Kura-kura, hukumnya?!

“Dua butir” kura-kura sampai kini masih setia menghuni akuarium di rumah. Itu artinya saya berhasil memelihara kura-kura kan?!, setelah berbulan-bulan yang lalu ikan lohan buesarrr tewas karena sepekan saya tinggal ke Bandung dan memang ikan lohan besar itu butuh perawatan ekstra lebih hati-hati.

Ya… menyenangkan punya peliharaan yang kita sayang. Berawal dari ngurusin kucing-kucing liar, pasca gempa Jogja ada sekitar 6 kucing kecil, hingga sampai diakhir hayat mereka. Sungguh itu adalah bagian dari kebahagiaan.

Nah, sebenere dua butir kura-kura ini mendadak saya dapat oleh-oleh dari seorang yang hendak hijrah ke Jakarta. (padahal sebulan kemudian, balik lagi ke Jogja!.).

Mengutip beberapa informasi terkait bagaimana hukum memelihara hewan peliharaan di rumah :

Pertama : Dari Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

” Artinya : Ada seorang wanita yang masuk Neraka karena seekor kucing yang disekapnya, karena dia tidak memberinya makan dan minum, dan tidak juga membiarkannya makan serangga tanah” [1]

Kedua : Di antara syarat sahnya jual beli adalah barang yang diperjualbelikan itu terdapat manfaat tanpa dibutuhkan, sedangkan ular sama sekali tidak memberi manfaat, bahkan malah membawa bahaya, sehingga tidak boleh dijual dan juga dibeli. Demikian halnya dengan kadal yang tidak memberi manfaat, sehingga tidak boleh diperjualbelikan.

Ketiga : Tidak diperbolehkan menjual binatang buas, baik itu serigala, singa, maupun rubah, dan lain-lain dari setiap binatang buas yang bertaring, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam malarang hal tersebut. Dan yang demikian itu menghambur-hamburkan uang. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah melarang hal itu.

“Sesungguhnya bila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti Ia mengharamkan pula atas mereka hasil penjualannya.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan dinyatakan sebagai hadits shohih oleh Ibnu Hibban)

Sebagian ulama ada yang berpendapat makruhnya pengekangan hewan-hewan itu untuk dilatih, dan sebagian melarangnya. Mereka mengatakan, bahwa mendengarkan suaranya dan menikmati pemandangannya bukan menjadi kebutuhan seseorang, bahkan hal itu merupakan kesombongan, kejahatan, kehidupan yang keras dan juga kebodohan.

Sebab, hewan itu ingin bersuara keras dan orang tersebut sepertinya tidak suka burung itu terbang bebas di udara. Sebagaimana yang disebutkan di dalam buku Al-Furuu’ Wa Tashbihuhu, karya Al-Mardawi, IV/9, serta Al-Inshaaf, IV/275.

Informasi terkait :


Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *