Senikmat apapun hidup di tengah kegelapan cahaya , tetaplah itu semua kenikmatan semu, yang tidak akan pernah mencapai kenikmatan hakiki yang mengarah kepada ketenangan jiwa, dan kesejukan hati.
Semakin hawa nafsu itu dituruti, sejatinya jiwa ini semakin haus, rindu akan siraman ketenangan. Namun, karena hawa nafsu begitu dominan, yang terjadi hanyalah pengingkaran, pengingkaran jeritan hati. Sehingga, meskipun ia terluka, mulut masih bisah tetap tertawa dengan sumringahnya. (selalu ku ulang-ulang hal ini )
Tertoreh tujuh perkara dimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam AL Fawaid, mengingatkan tentang tujuh perkara aneh yang amatlah berbahaya bagi manusia :
Pertama : Engkau Tahu , tetapi engkau tidak mencintai-NYA
Kedua : Engkau mendengar seruan , tetapi engkau terlambat menjawab seruan-NYA
Ketiga : Engkau tahu keuntungan jika bergaul dengan-NYA, tetapi engkau justru bergaul dengan selain NYA.
Keempat : Engkau tahu KemarahanNYA, tetapi engkau justru memancing-mancing murka-NYA
Kelima : Engkau tahu betapa sakitnya adzab-NYA jika menentangNYA, tetapi engkau tidak meminta belas kasihan kepada NYA dengan menaati-NYA.
Keenam : Engkau merasa sakit hati jika tidak menyebut nama-NYA, tetapi engkau justru tidak mau menyebut nama-NYA dan tidak bertaubat kepada NYA.
Ketujuh : dan yang lebih aneh lagi, engkau tahu bahwa engkau sangat membutuhkanNYA, tetapi engkau justru berpaling dari-NYA dan mencintai hal-hal yang menjauhkan.
Sebenernya, hatiku menjerit, ada banyak kekeliruan yang ku lalui. Benar kiranya seorang mukmin itu pasti melakukan berbagai kekhilafan.
Mengingat kembali Tawaab Nasiyy :
Artinya : “Orang yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat”. [Faid-Al Qadir 5/491].
Bukankah menurut sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, orang mukmin itu memang terombang-ambing?.
Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus”. [Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027].